Kekaisaran Aztec dan Pengorbanan Manusia
alasan sosiologis dan gizi di balik ritual berdarah
Mari kita bayangkan sebuah pemandangan sejenak. Matahari bersinar terik di atas kota Tenochtitlan, ibu kota Kekaisaran Aztec yang sangat megah. Di puncak piramida tinggi, seorang pendeta mengangkat jantung manusia yang masih berdetak ke arah langit. Darah mengalir membasahi undakan tangga batu. Terdengar mengerikan, bukan? Kalau kita membaca catatan sejarah dari para penakluk Spanyol, bangsa Aztec sering digambarkan sebagai monster haus darah. Ritual pengorbanan manusia mereka dianggap sebagai kegilaan murni yang biadab. Tapi, mari kita tahan dulu penilaian moral kita. Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana sebuah peradaban yang mampu membangun sistem kanal air bersih, taman terapung, dan kuil berarsitektur rumit bisa melembagakan pembunuhan massal? Pasti ada alasan logis di baliknya. Mari kita bedah sejarah berdarah ini lewat kacamata sains.
Untuk memahami bangsa Aztec, kita harus paham dulu cara kerja pikiran mereka. Dari sudut pandang psikologi dan sosiologi, ritual berdarah ini sebenarnya punya fungsi yang sangat praktis. Bangsa Aztec hidup dalam kecemasan kosmis yang permanen. Mereka percaya bahwa dewa-dewa purba telah mengorbankan diri untuk menciptakan dunia. Sebagai gantinya, umat manusia punya hutang nyawa yang disebut tonalli. Jantung dan darah segar adalah bahan bakar wajib agar matahari tetap terbit dan alam semesta tidak kiamat. Namun, di balik dogma agama yang kuat itu, ada motif politik kelas berat. Pengorbanan manusia adalah alat kontrol sosial paling efektif yang pernah diciptakan. Coba bayangkan kita adalah kepala suku tetangga yang diam-diam berniat memberontak. Lalu, kita diundang ke ibu kota Aztec hanya untuk menonton ribuan tawanan perang dieksekusi secara massal. Nyali kita pasti langsung ciut. Teror psikologis, teman-teman, adalah cara termurah bagi para elit penguasa untuk menjaga ketertiban sebuah kekaisaran yang sangat luas.
Sampai di sini, penjelasan tentang agama dan intimidasi politik mungkin terdengar masuk akal. Tapi, para antropolog menemukan ada satu anomali besar yang membuat mereka terus menggaruk kepala. Skala pengorbanan bangsa Aztec itu sama sekali tidak wajar. Beberapa catatan menyebutkan ada puluhan ribu nyawa yang melayang dalam satu festival besar saja. Jika tujuannya cuma untuk menakut-nakuti musuh, jumlah sebanyak itu sebenarnya buang-buang sumber daya manusia. Lalu, pertanyaan besarnya muncul. Setelah ritual selesai dan mayat-mayat tak berjantung itu ditendang jatuh ke dasar piramida, apa yang terjadi pada tubuh mereka? Di sinilah misteri mulai menebal. Untuk menjawabnya, kita harus menggeser fokus kita dari piramida ke peta geografis Mesoamerika kuno. Kita harus membedah menu makan malam mereka. Ternyata, ada satu kepingan puzzle yang hilang dari ekosistem bangsa Aztec. Dan absennya hal ini memicu salah satu adaptasi paling ekstrem dalam sejarah kelangsungan hidup manusia.
Kepingan puzzle yang hilang itu adalah hewan ternak besar. Di benua Eropa atau Asia, nenek moyang kita punya sapi, kambing, dan babi. Hewan-hewan ini adalah mesin penghasil protein dan lemak yang stabil. Tapi di lembah Meksiko kuno, bangsa Aztec tidak punya kemewahan itu. Hewan peliharaan terbesar mereka hanyalah kalkun dan sejenis anjing tak berbulu. Pertanian jagung mereka memang luar biasa, tapi saat populasi kota meledak hingga ratusan ribu jiwa, ancaman krisis gizi membayangi. Di akhir tahun 1970-an, seorang antropolog bernama Michael Harner mengajukan teori ekologi yang mengguncang dunia sains. Ia mengemukakan bahwa pengorbanan manusia di Kekaisaran Aztec bukan sekadar ritual agama, melainkan solusi nutrisi. Ya, teman-teman, kita sedang membicarakan kanibalisme yang dilembagakan oleh negara. Setelah jantung diserahkan kepada dewa, sisa tubuh korban yang kaya akan asam amino esensial dipotong-potong dan didistribusikan. Daging ini direbus bersama jagung menjadi hidangan bernama pozole. Porsi terbaiknya diberikan kepada kaum elit dan prajurit berprestasi sebagai hadiah. Kekurangan protein hewani di lingkungan mereka memaksa bangsa Aztec menjadikan tawanan perang mereka sendiri sebagai pengganti "hewan ternak".
Mendengar fakta ini, perut kita mungkin terasa sedikit mual. Itu adalah reaksi psikologis yang sangat wajar bagi manusia modern. Namun, sains menuntut kita untuk melihat jauh melampaui rasa jijik. Kisah Kekaisaran Aztec mengajarkan kita sesuatu yang sangat dalam tentang sifat dasar manusia. Ketika dihadapkan pada keterbatasan ekologis yang mencekik dan ancaman kelaparan terselubung, kelompok manusia bisa menciptakan sistem yang paling brutal sekalipun. Hebatnya lagi, mereka mampu membungkus kebrutalan itu dengan narasi agama yang suci agar terasa benar dan heroik. Kita di sini tidak sedang membenarkan tindakan mereka. Tapi dengan mencoba memahaminya, kita jadi sadar betapa rapuhnya batas antara peradaban yang tinggi dan insting kelangsungan hidup yang primal. Pada akhirnya, sejarah bukanlah sekadar cerita hitam-putih tentang orang baik melawan orang jahat. Sejarah adalah sebuah laboratorium raksasa yang memperlihatkan bagaimana spesies kita beradaptasi dengan alam, seekstrem apa pun caranya.